Air Mengalir Sampai Jauh

“Air mengalir sampai jauh” adalah sepenggal lirik dalam lagu Bengawan Solo ciptaan Gesang, sang maestro keroncong Indonesia yang turut dipopulerkan oleh Sundari Soekotjo. Lagu yang diciptakan pada tahun 1940 ini dapat dipahami dari 3 (tiga) perspektif. Pertama, dimensi perjuangan, karena alunan musik keroncong yang populer di masa pergerakan dan revolusi fisik sehingga kehadiran lagu Bengawan Solo turut mengawal perjuangan kemerdekaan Indonesia. Kedua, dimensi geografis, karena lagu ini bercerita mengenai kondisi alam pulau Jawa yang memiliki curah hujan yang cukup tinggi sehingga mendukung arus perdagangan yang menggunakan sungai sebagai sarana lalu lintas pada masa itu. Ketiga, dimensi seni, karena ternyata alunan keroncong merupakan musik yang tidak hanya disukai oleh pejuang kemerdekaan, namun juga cukup digemari oleh tentara Jepang pada masa pendudukan Jepang (1942-1945). Tidaklah heran apabila hingga kini lagu Bengawan Solo masih cukup populer dan mendapatkan tempat di hati masyarakat Negara Matahari Terbit, bahkan telah diterjemahkan dan digubah dalam berbagai versi dan beragam bahasa.

Lirik dan nada keroncong pada lantunan lagu Bengawan Solo konon lahir dari inspirasi yang diperoleh Gesang atas perpaduan senandung keroncong dengan keindahan dan kekayaan bumi Nusantara. Inspirasi tersebut tentunya tidak akan secara indah tercermin dalam lagu Bengawan Solo apabila kondisi alam pulau Jawa mencerminkan sebaliknya, yakni berkontur gurun pasir, gersang dan curah hujan yang sangat rendah. Oleh karena itu, tidaklah heran apabila lagu Bengawan Solo memiliki suatu daya romantisme yang dapat membasuh fisik dan menyegarkan jiwa-jiwa yang lelah dalam revolusi perjuangan kemerdekaan masa itu.

 

Perjuangan revolusi kemerdekaan Indonesia memang ibarat suatu orkestrasi musik dimana rakyat dan tentara mengalir dalam satu derap irama, bersatu padu untuk membebaskan bumi nusantara dan bangsa Indonesia dari penjajahan. Adalah semangat kepahlawanan, kesetiakawanan dan kecintaan pada Republik yang membentuk nilai – nilai yang kemudian memberikan ruh pada perjuangan fisik para pejuang kemerdekaan Indonesia. Bung Karno menyatakan dalam sebuah artikel beliau yang dimuat dalam buku Di Bawah Bendera Revolusi Jilid I bahwa “pada hakekatnya perjuangan bangsa Indonesia adalah perjuangan ruh” (2015, Hlm. 85). Pentingnya perjuangan ruh juga pernah Bung Karno sampaikan ketika pada tahun 1943 beliau mensinyalir bahwa suatu saat pasukan Jerman akan menderita kekalahan karena perjuangan mereka hanya diisi dan didorong oleh ruh imperialisme belaka.

 

Dalam suatu perjuangan ruh dimana jiwa, semangat, dan pengorbanan fisik melebur untuk mewujudkan cita-cita kemerdekaan sejati, kita akan menemukan kesatuan kejuangan antara rakyat dan tentara sebagaimana tercermin dalam revolusi kemerdekaan Indonesia. Kesatuan inilah yang kiranya dapat menjelaskan mengapa khitah dari Tentara Nasional Indonesia (TNI) pada hakikatnya adalah manunggal dengan rakyat Indonesia karena TNI lahir dari rahim perjuangan semesta anak bangsa untuk memerdekakan bumi Nusantara dari tirani imperialisme dan kolonialisme. Dapat dibayangkan, apabila tidak dilandaskan pada perjuangan ruh maka perjuangan revolusi kemerdekaan Indonesia akan cepat padam karena yang ada hanya pamrih semata tanpa jiwa dan semangat pengorbanan. Cita-cita kemerdekaan sejati bangsa dan tanah air Indonesia-pun karenanya hanya akan menjadi angan-angan semata.

 

Setelah 70 tahun merdeka, aspirasi untuk menjadi bangsa yang berdikari dan berdaulat tetaplah menjadi tantangan bagi segenap bangsa Indonesia. Pekerjaan rumah generasi dewasa ini adalah mempertahankan dan merawat kemerdekaan yang telah direbut dengan darah dan pengorbanan oleh para pejuang kemerdekaan. Perjuangan ruh-pun tetap menemukan relevansinya dalam masa sekarang ini yang hanya dapat diaktualisasikan melalui pemahaman yang utuh terhadap Pancasila. Dalam hal ini, Pancasila adalah modalitas utama bagi bangsa Indonesia untuk menunaikan tugas kebangsaan dan kenegaraannya serta menjadi sumber inspirasi dalam menggali jatidiri dan menemukan kembali ruh perjuangan demi mempertahankan dan merawat kemerdekaan.

 

Sebagai bangsa yang besar, bangsa Indonesia tidak dapat hidup dan mengisi kemerdekaannya dengan perjuangan ruh apabila tercerabut dari jatidirinya sebagai suatu kesatuan bangsa dan tanah air. Kecerdasan dalam menjawab tantangan mengisi kemerdekaan dengan demikian tidak dapat dilakukan tanpa adanya inovasi. Dalam konteks inilah penting untuk memastikan keterkaitan antara inovasi dengan perjuangan ruh yang berbasiskan Pancasila sebagai jati diri Bangsa sebagai landasan setiap upaya anak bangsa dalam mengisi kemerdekaan secara positif.

 

Inovasi bukanlah berimajinasi ataupun berkhayal semata tetapi  menggali sumber-sumber baru bagi nilai-nilai yang sudah ada, sebagaimana yang pernah disampaikan oleh Peter Senge, pakar dari Sloan School of Management, Massachusets Institute of Technology, pada suatu kesempatan kuliah umum di Jakarta tahun 2010. Pancasila sebagai value (nilai), sumbernya yang harus terus ‘digali’.  Usaha-usaha untuk menggali sumber-sumber baru bagi Pancasila tidak lain merupakan suatu usaha-usaha untuk menggali sumber kekuatan dan potensi bangsa Indonesia.

 

Suatu contoh yang relevan adalah inovasi untuk menyokong konsep pertahanan rakyat semesta dalam menghadapi ancaman perang siber dimana taktik gerilya menjadi perlu dikaji kembali. Walaupun khitah dari TNI adalah manunggal dengan rakyat dan satu kesatuan dengan tanah air Indonesia serta dalam aspek ilmu pengetahuan serta teknologi sudah tidak dapat lagi dipisahkan antara perjuangan TNI dan perjuangan rakyat, namun tetap perlu dipikirkan suatu wadah, mekanisme dan konsep yang menghubungkan kerja sama efektif antara unsur militer dan non-militer dalam suatu pertahanan semesta terhadap ancaman perang siber tersebut.

 

Lagu Bengawan Solo selain menggambarkan keindahan alam juga mengilustrasikan ancaman kekeringan yang senantiasa dialami sungai tersebut. Segala permasalahan lingkungan yang kita hadapi belakangan ini mengingatkan bangsa Indonesia akan pentingnya memikirkan inovasi guna memitigasi kerawanan alam sebagai tantangan bagi pembangunan berkelanjutan dan upaya mewujudkan ketahanan lingkungan Indonesia. Sehingga, pemanfaatan kekayaan alam Indonesia yang kaya raya akan curah hujan, pasang surut air laut, kekuatan angin, tanah yang subur serta aneka kekayaan bidoversitas dapat dilakukan secara bertanggungjawab.

 

Kita perlu menjaga agar jangan sampai generasi mendatang bertanya: mengapa aliran air kekayaan alam bangsa Indonesia tidaklah sampai jauh pada generasi kami seperti yang pernah dilantunkan oleh Gesang dalam lagu Bengawan Solo?

 

Pada akhirnya, generasi mendatanglah yang menjadi tolak ukur kesuksesan bangsa Indonesia dalam perjuangan ruh mengisi kemerdekaan melalui pembangunan yang berbasiskan pemahaman akan jatidiri bangsa dan tanah air Indonesia.

 

Budi Susilo Soepandji

One thought on “Air Mengalir Sampai Jauh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s