Diplomasi Semesta untuk Bangsa Indonesia

Benua Eropa dan Kawasan Timur Tengah sedang menghadapi tantangan maupun pilihan-pilihan yang sulit dalam menjawab kompleksitas permasalahan yang sedang mereka hadapi. Konflik sosial, perang dan krisis kemanusiaan di Timur Tengah khususnya Irak dan Suriah tidak hanya mengakibatkan terorisme di kawasan tersebut, tetapi juga migrasi manusia yang menghantui stabilitas, pertumbuhan sosial-ekonomi, perdamaian dan kemajuan peradaban di Eropa. Seluruh hal tersebut kini menjadi masalah yang dihadapi pimpinan nasional di Eropa dan Timur Tengah yang harus segera dicari solusinya.

Konflik sosial-politik di Suriah awalnya bersifat domestik, namun kemudian meluas menjadi krisis regional dan sekaligus kancah pertarungan geopolitik. Fenomena munculnya ISIS, insiden jatuhnya pesawat Rusia, rangkaian serangan teror di Paris, penyanderaan yang baru-baru ini terjadi di Mali, serta berbagai peristiwa lainnya menunjukkan semakin sulitnya melokalisir konflik maupun membendung sisi negatif dari suatu kemajuan peradaban.

Tentunya fenomena ini menjadi renungan kita bersama: apa arti semua kondisi eksternal tersebut bagi kedewasaan berbangsa dan bernegara kita, serta bagi segenap upaya kita dalam memenuhi cita-cita nasional bangsa Indonesia? Bagaimana kita memaknai ketahanan nasional Indonesia vis a vis kondisi eksternal yang dinamis tersebut dalam sebuah konsep diplomasi semesta?

Refleksi atas kedua hal tersebut perlu mengacu pada ide pemikiran Presiden Republik Indonesia yang pertama Ir. Soekarno atau  Bung Karno. Pada tanggal 31 Maret 1953, Bung Karno pernah menulis bahwa : “… sejarah telah menunjukkan, jatuhnya negara-negara besar [adalah] oleh karena budi-pekertinya tidak luhur … hanya bangsa yang tinggi budinya dapat mengerti apa yang sebenarnya dimaksudkan dengan kemerdekaan. Kemerdekaan dapat [saja] dicapai oleh sembarang bangsa. Tetapi kemerdekaan sejati hanyalah hasil dari pada budi pekerti yang luhur.”

Selanjutnya dalam pidato peresmian Lembaga Pertahanan Nasional (sekarang Lembaga Ketahanan Nasional atau Lemhanas) pada tanggal 20 Mei tahun 1965, Bung Karno menyampaikan bahwa “ … sesuatu pertahanan nasional hanyalah benar-benar kuat jikalau berdiri di atas karakteristik dari bangsa sendiri, tanah air sendiri. Dan pengetahuan mengenai bangsa sendiri, tanah air sendiri itulah yang dinamakan geopolitik.”

Bung Karno kemudian menjabarkan 5 (lima) kondisi obyektif (objektif gegeven) dalam membangun fondasi ketahanan nasional yang berupa pemahaman akan pertama, Indonesia adalah negara kepulauan; kedua, Indonesia berada dalam posisi silang atau yang dalam istilah Karl Haushofer disebut sebagai kreuz position; ketiga, Indonesia yang kaya akan sumber daya alam; keempat, sejarah pembentukan dan kebangsaan Indonesia; dan kelima,  unsur-unsur yang membentuk kebudayaan dan identitas bangsa Indonesia, mengingat Bumi Nusantara adalah tempat di mana terjadinya kristalisasi falsafah atau kebenaran hidup tertinggi dari masing-masing peradaban dan agama-agama besar yang datang dan kemudian berasimilasi dengan falsafah dan kearifan lokal bangsa Indonesia.

Berangkat dari ide pemikiran Bung Karno maka dalam menghadapi kondisi eksternal yang silih berganti dan kompleks tersebut, seluruh pemangku kepentingan nasional tentu harus bersatu padu mencurahkan pikiran dan usaha tanpa pamrih dengan disertai pemahaman geopolitik yang tepat. Dalam konteks ini, pemantapan nilai-nilai kebangsaan bagi seluruh penentu dan pemangku kepentingan nasional menjadi semakin penting dan mendesak .

Untuk itu terobosan kebijakan yang dilakukan oleh Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, Retno Marsudi untuk mengirimkan para calon diplomat karir peserta pendidikan Sesdilu dan Sekdilu ke Pendidikan Pemantapan Nilai Kebangsaan di Lemhannas (2015) adalah satu contoh bahwa masalah diplomasi memerlukan kerjasama seluruh pemangku kepentingan.

Bagi para diplomat, pendidikan pemantapan nilai kebangsaan juga mempunyai arti lebih luas. Pada saat pendidikan, mereka dapat berinteraksi dengan berbagai instansi lain. Interaksi inilah yang sangat dibutuhkan untuk memupuk rasa saling mengenal dan saling percaya, sehingga di masa datang akan terjalin kerja sama efektif dan strategis  dalam mengemban misi diplomasi semesta. Dengan mengirimkan para diplomat untuk mengikuti pendidikan di Lemhanas, Menlu Retno menekankan pentingnya konektivitas dan sinergi antara pemangku kebijakan luar negeri selaku pihak yang mengamati, mencermati dan memahami permasalahan serta kompleksitas persoalan internasional, untuk berinteraksi dengan berbagai institusi, baik ekskutif, legislatif,maupun yudikatif yang turut memiliki pemahaman masing-masing akan tantangan dan permasalahan dalam negeri.

Diplomasi Indonesia adalah diplomasi yang mengakar dalam denyut dan urat nadi arus pergerakan dan pembangunan nasional. Kesinambungan pemahaman dan interaksi antara pemangku kebijakan luar negeri dan pemangku kepentingan nasional lainnya kiranya dapat membuahkan dan mengukuhkan visi anak bangsa melalui pemantapan nilai-nilai kebangsaan secara tepat guna menjawab tantangan kondisi eksternal yang datang silih berganti dan semakin kompleks .

Selain terobosan tersebut, sejumlah peserta dari manca negara yang mengikuti pendidikan di Lemhannas selama 7,5 bulan memberikan kontribusi dalam menjaga perdamaian dunia dan menjaga saling percaya dalam kerjasama militer dan non militer (Confidence Building Measure). Dengan demikian  hubungan antar alumni pendidikan Lemhannas baik dari unsur militer dan non militer  tetap terjalin, dan bahkan dapat saling mengisi dalam meningkatkan hubungan politik, ekonomi dan sosial budaya bangsa Indonesia dikemudian hari.

Model pendidikan pemantapan nilai-nilai kebangsaan dapat dipakai untuk memperkecil jurang pemisah antara idealisme dan realitas di lapangan, sehingga para peserta dapat  menatap masa depan yang lebih baik. Dalam hal ini,  para penentu kebijakan dan pemangku kepentingan akan semakin memahami permasalahan luar negeri yang dinamis; dan di lain pihak,  para diplomat akan semakin memahami permasalahan dalam negeri, baik di bidang sosial, politik, dan ekonomi  yang selalu berubah.

Perjalanan sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia mencatat bahwa pernah terjadi pertentangan persepsi antara pejuang  yang mengutamakan perlawanan bersenjata dan pejuang yang mengharapkan dihentikannya kontak senjata agar dapat bernafas melanjutkan perjuangan melalui misi diplomasi. Perbedaan semacam ini tentunya harus dikelola secara matang agar tidak terjadi perpecahan berbangsa dan bernegara karena bisa saling tuduh antara pejuang fisik bersenjata dan pejuang diplomasi. Untuk mengelola perbedaan tersebut, Perdana Menteri (PM) Indonesia saat itu Sutan Sjahrir memprakarsai suatu  pertemuan dengan Jendral Sudirman di bulan November 1946 untuk menjelaskan posisi RI yang masih lemah sehingga membutuhkan suatu upaya diplomasi. Penjelasan ini akhirmya dipahami oleh Jenderal Sudirman yang semula menolak diplomasi dengan Belanda.  Selanjutnya, Agresi Militer Belanda I tanggal 27 Juli 1947 dijadikan momentum diplomasi bagi Sjahrir untuk membawa permasalahan Indonesia ke fora Internasional diawali dengan pidato Sjahrir di Dewan Keamanan PBB tanggal 14 Agustus 1947.

Serangan Umum 1 Maret 1949 di Yogyakarta juga merupakan contoh kongkrit terjalinnya sinergi antara perjuangan bersenjata dan diplomasi, sehingga menguntungkan bagi perjuangan kemerdekaan Indonesia. Apa yang dilakukan oleh Sutan Sjahrir, maupun Serangan Umum merupakan contoh-contoh Diplomasi Semesta yang terbuka, di mana setiap orang dapat ikut berkontribusi di dalamnya. Pada konteks masa kini,  segenap komponen bangsa dapat berperan dalam mendukung konsep Dilomasi Total atau Total Diplomacy yang sedang digalakkan oleh Pemerintah Republik Indonesia; dengan demikian, mispersepsi atau miskonsepsi dalam pelaksanaan suatu misi diplomasi dapat dihindari semaksimal mungkin.

Dalam konteks internasional, Diplomasi Semesta terwujud dalam Konferensi Asia Afrika (KAA) yang pertama kali diadakan di Bandung pada tahun 1955. Hingga kini, KAA yang dipelopori oleh Indonesia masih terus menginspirasi negara-negara Gerakan Non-Blok atau Non-Aligned Movement (“NAM”) dalam berbagai forum internasional, terutama di PBB. sebagai platform perjuangan politik dalam hampir berbagai isu dari bangsa Asia-Afrika. Semangat KAA telah menjiwai cita-cita luhur bangsa-bangsa Asia-Afriak untuk tidak lagi terjerumus dalam koridor konflik kepentingan dari kolonialisme dan imperialisme modern. Kerja Sama Selatan-Selatan yang didengungkan dalam perhelatan KAA beberapa waktu lalu adalah testimoni akan masih bergeloranya ruh perjuangan bangsa Asia-Afrika ini.

Inilah hakikat dari diplomasi semesta;diplomasi yang bukan hanya mampu untuk memahami kompleksitas persoalan internasional beserta segala dinamikanya, tetapi juga mampu mengakar dalam jejaring nasional sehingga memiliki daya gedor atau multiplier effect yang efektif dalam setiap upaya untuk mempertahankan kepentingan nasional dan dalam memenuhi cita-cita nasional, khususnya untuk ikut serta dalam melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.

Mewujudkan diplomasi semesta tentunya bukanlah tugas yang mudah. Namun demikian, sebagai bangsa yang sadar bahwa kemerdekaan nasional terjadi karena “atas berkat rahmat Allah yang Maha Kuasa” sebagaimana termaktub dalam Pembukaan UUD NRI 1945, bangsa Indonesia harus percaya bahwa dengan pemahaman yang benar terhadap jati diri, sejarah, dan nilai-nilai yang diperjuangkannya, maka seluruh anak bangsa melalui pemantapan nilai-nilai kebangsaan yang tepat dapat secara taat dan konsisten menyusun visi bersama ketahanan nasional Indonesia dalam menghadapi tantangan dan kompleksitas kondisi eksternal yang berubah berganti guna mencapai kemerdekaan sejati.

Diplomasi semesta, diplomasi bangsa Indonesia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s